Select Page
Kegundahan Belajar di Luar Negeri

Kegundahan Belajar di Luar Negeri

Rhode Island, November 2019

Kegundahan seorang petugas belajar di Luar Negeri dari sebuah Kementerian. 

            Membayangkan untuk terbang dengan menggunakan pesawat saja sudah banyak hal yang harus dipersiapkan, apalagi sejak kecil kehidupan saya begitu belum bagus karena keterbatasan dana bahkan biaya untuk sekolah. 

Sejak kecil mulai dari skeolah dasar, saya ikut dengan ibunda, meskipun ayah dan bunda sudah pisah karena ego yang sangat luar biasa. Membayangkan betapa bahagia keluarga yang bisa berlibur dengan menggunakan pesawat dan terlihat mewah dan bahagia. 

Sejak kecil aku selalu membantu ibuku untuk berjualan, karena kehidupan kami dimulai dari berjualan di pinggir jalan sampai dengan berjualan gorengan tiap sore hari keliling kampung. Akupun tak pernah merasa sedikit malu, bahkan kalo ibuku jualan di rumahpun aku merasa seneng jika bisa membantu, dari situlah awalnya aku sedikit belajar untuk bisa membuat makanan. 

Seiringnya waktu berjalan, aku merasa sangat bodoh sekali di sekolah dasar, karena sangat ironi pada saat penerimaan rapot aku selalu mendapatkan urutan ke-2 dari terakhir mulai dari kelas 3 SD sampai 5 SD. Entah apa yang membuatku menjadi sangat bodoh. Akhirnya pada usia yang sudah beranjak menuju kelas 6 SD akupun mulai sedikit mengerti apa artinya memahami pelajaran, semenjak itu mulailah aku mendapatkan peringkat 10 besar. 

Sekolah menengah pertama yang ada di pusat kota membuat aku sangat mudah untuk menjangkau. Setiap hari berjalanan kaki demi menuntut ilmu, meskipun melihat sahabat2 ku yang sudah punya motor untuk berangkat sekolah, akupun memilih untuk jalan kaki karena keterbatasan biaya dan tidak mungkin untuk mempunyai sebuah sepeda motor. Tiap hari aku selalu bermimpi tiba2 saat pulang sekolah ada motor baru di depan rumah, tapi itu semua hanyalah sebuah mimpi. Di bangku SMP aku alhamdulilah selalu mendapatkan peringkat 5 besar, bahkan aku pernah menjadi peringkat pertama di kelas, itu bagiku sebuah anugrah yang telah di berikan allah kepadaku. Akhir masa SMP saatnya membingungkan sekolah lanjutan mana yang bagus buatku. Jika aku memilih SMA maka aku harus kuliah untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, tetapi jika aku ambil sekolah menengah kejuruan mungkin dengan tidak kuliahpun aku bisa kerja. Karena keterbatasan biaya lagi akhirnya aku memilih untuk sekolah di kejuruan, karena aku sudah berfikir untuk tidak lanjut di perguruan tinggi karena tidak adanya biaya. 

Cerita singkat di SMK yang mana sekolah itu berjurusan pelayaran dan semi militer, awalnya aku kaget dan gak kuat pengen keluar dan ganti pindah ke SMA, tapi ibuku tiap hari memberikan dukungan sampai tiap hari di jenguk, padahal jarak kos dengan rumah sekitar 2 jam jauhnya dan tiap sore hari harus nemenin di kos dan malamnya pulang (anak manja tapi gak punya biaya). 

Seiring berjalannya waktu akhirnya aku mulai kerasan, karena mungkin sudah banyak teman dan bahkan aku jarang pulang ke rumah karena sering main dengan teman2 SMK. Di SMK aku juga selalu mendapatkan peringkat 3 besar, bahkan pada saat ujian akhir sekolah rata2 teman2 sekelasku mencontek semua hasil ujianku di mata pelajaran Ilmu Pelayaran, itu pelajaran hitung-hitungan dan banyak yang merasa tidak bisa. Nilai ujian matematikaku pun cukup bagus bahkan sempet guru matematikaku bilang untuk sering ngajarin temen2 satu kelas. Awalnya tidak pernah ada niat untuk melanjutkan kuliah karena terbentur masalah biaya, tetapi ada beberapa gutu dari lulusan Sekolah Perikanan Jakarta menawarkan untuk melanjutkan. Menariknya adalah, sekolah itu sebagian besar di subsidi oleh pemerintah pusat, jadi bebas biaya Pendidikan dan asrama gratis. Dipikir matang itu tawaran yang sungguh menarik, hari pertama aku bilang ke ibuku dan ibuku menjawab “ aku gak punya uang buat kuliahin kamu le”, akhirnya dengan berbesar hati aku mnenjawab “sekolah itu gratis kok buk”, iya kelo gratis gak apa2 tapi coba di yakinkan dulu apakah benar. Telisik demi telisik akhirnya memang benar itu skeolah suibsidi pemerintah. Akupun berangkat ke Jakarta dengan modal 300.000 rupiah untuk uang saku selama 2 minggu karena ada test fisik dan harus tinggal sementara di luar kampus. Alhamduliah ada orang baik alumni yg menawarkan untuk tinggal di rumah kos tanpa biaya, akhirnya aku mulailah ikut seleksi dan alhamdulilah aku masuk, akhirnya aku telp ibuku dan bilang aku masuk trus harus menyiapkan dana sekitar 6,8jt (2005) saat itu untuk pembelian seragam dan alat2 asrama lengkap. Ibuku menjawab “uang sebanyak itu dari mana carinya?” akhirnya aku di bantu sama keluargaku untuk mencapai uang segitu dan aku bisa kuliah. 

Masalah terselesaikan, akhirnya aku di lantik sebagai taruna, toh pada saat itu juga pelantikan harus di hadiri oleh orang tua dan akupun hanya di wakili oleh pak lek ku karena kalo ibuku gak mungkin. Karena harus jualan dan tidak punya uang untuk ke Jakarta. Setahun pertama aku tidak pernah pulang kampung karen aongkos yang mahal dan waktu libur yang sedikit. Semester pertama aku kaget banget karena pada saat yudusium aku mendapatkan peringkat No 1 di kelasku dan harus jalan tegap untuk menerima hasil studi waktu upacara. Aku bersykur sampai berguling-guling karena tidak pernah menyangka dengan hal itu. 

Setelah semester bergulir, aku akhirnya mendapatkan beasiswa dari supersemar foundation, alhamduliah sedikit tertambahkan uang jajan di kampus, dari mulai ambil makanan di ruang makan yaitu berupa nasi doang dan lauk nya kerupuk, itu sudah luar biasa banget rasanya. 

Waktupun terus berlalu sampai pada akhirnya aku di nobatkan sebagai lulusan terbaik dan wajib menjadi pimpinan saat upacara wisuda yang di hadiri oleh Menteri saat itu. Pada saat namaku di umumkan dan nama orang tua di umumkan bahwa aku adalah lulusan terbaik aku meneteskan air mata, karena jika bapakku melihat ini pastinya dia bangga, tetapi hal itu tidak pernah terjadi karena dia sibuk dengan dunia nya sendiri. Tetapi senangnya disitu ibuku bisa menhadiri dan menjadi saksi bahwa anaknya adalah lulusan terbaik saat itu. 

Itu adalah awal dari semua proses yang ada dan aku dihadapkan dengan kenyataan jika aku harus bisa bekerja setelah lulus. Pada akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di pelabuhan, karena sebelumnya aku menghadap ke kepala pelabuhan untuk dapat diterima bekerja, saya masih ingat kala itu beliau bilang “Kalo kamu langkah tegap saat wisuda, aku orang pertama yang akan menerima mu untuk bekerja”, pada akhirnya kata2 itu selalu teringat atas kebaikan kepala pelabuhan. Suatu hari aku menhadap beliau dan memberikan sertifikat lulusan terbaik dan beliau tiba2 bilang “Aduh aku kalah taruhan”, saat itu pula beliau menerimaku bekerja di bagian data statistic dan juga aku di perbantukan di satker. Saat bekerja kepala pelabuhan bilang “Agus, kayaknya kamu jangan disini terus, kasihan kamu bakal makin gak bisa maju, mending kamu cari tempat yang tepat yaitu di Jakarta, agar karir kamu bagus”, akupun menjawab “Siap pak!”.

Tibalah ujian calon pegawai negeri keluar pengumuman, akupun mulai mendaftar di badan penelitian sebagai peneliti, terlihat sangat berat sekali lowongan itu, takutnya aku tidak mampu. Tetapi lagi – lagi tangan tuhan bekerja, alhamdulilah aku akhirnya lolos PNS di kementerian tanpa uang sepeserpun. Tetapi masih ada aja yang belum percaya, tapi ya udahlah aku gak begitu peduli dengan itu semua. Akhirnya aku bekerja di Lembaga riset, dan makin hari aku makin ada rejeki dimana aku bisa sedikit memberikan uang untuk ibuku. 

Sampailah pada titik dimana aku bisa membeli rumah di bogor meskipun harus menggadaikan SK PNS ke BANK, tetapi aku punya rumah untuk berteduh karena aku tidak kerasan tinggal kos di Jakarta, selain mahal lingkungganya terlalu rame. 

Nah pada tahun 2015 aku mendapatkan sponsor untuk training ke luar negeri, itu pertama kali nya aku keluar negeri dengan urusan kantor, meskipun melihat temen2 kantor yang lain sering ke luar negeri dengan usulan dari kantor, tetapi aku gak mau menjadikan alasan, akhirnya aku mendaftar sendiri dan mendapatkan sponsor selama 2 kali yaitu di tahun 2015 dan 2016. 

Pada tahun yang sama aku juga mendaftar beasiswa keluar negeri mulai dari China, Belanda, Amerika, Australia dan Korea. 

Aku tiodak pernah menyerah karena ku sudah punya toefl saat itu, jadi aku coba mendaftar kemanapun negara yang menawarkan beasiswa. Akhirnya pada saat itu aku lolos untuk mendapatkan beasiwa ke Korea, senangnya minta ampun sampai2 ibuku meneteskan air mata. 

Saatnya berangkat ke korea dan mulai belajar, 5 bulan berlalu akupun sudah merasa tidak kerasan hidup di korea, karena harus tinggal di dormitory dan tidak bisa masak makan sendiri, karena makanan sudah di siapkan tetapi tidak merasa bosan karena tiap hari harus makan ikan. Itu adalah satu2 nya makanan yang halal saat itu. Pada akhirnya aku di vonis sakit dan harus pulang ke Indonesia. pilihan yang berat dan akupun juga merasa seidkir stress saat itu. Rasanya bercampur aduk sampai tiap hari aku harus jalan sendiri seperti orsang gak punya tujuan. Di balik itu ada orang baik yang selalu kasih support karena mungkin allah berkehendak lain, akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Indonesia dengan berat hati meninggalkan teman2 baikku di korea. 

Selama kurang lebih 1 bulan aku ada di rumah, makan gak enak, tiap hari murung, sedih, pikiran bercampur aduk kemana2, tidak berani kembali ke kantor. Itu rasanya bagaikan hidup gak ada artinya. Berjalannya waktu aku terus kuat menerima kenyataan dan akupun kembali ke kentor dengan penuh ribuan pertanyaan yang harus aku siapkan. 

Sampai – sampai urusan belajarku terbengkelai dan aku merasa gak akan pernah bisa sekolah lagi, tetapi aku tidak pernah patah semangat, akhirnya aku mendaftar ke universitas Indonesia meskipun harus ijin dari kantor, tapi aku nekat karena aku pengen banget kuliah lagi dan akhirnya aku jadi mahasiswa UI saat itu selama 1 semester sebelum aku mendapatkan beasiswa belajar ke Amerika. 

Pada saat yang bersamaan aku mendapatkan beasiswa ke amerika, pilihan sangat berat sekali saat itu, kuliah di biayayin tapi ke amerika atau kuliah bayar sendiri tapi di Indonesia. setelah aku berdoa dan minta petunjuk dari yang di atas , akhirnya aku terima tawaran yang kuliah di amerika dengan berat hati lagi aku meninggalkan ibuku lagi, mereka masih trauma dengan apa yang terjadi saat itu, takutnya hal yang sama bakal terulang kembali, tapi aku udh nekat dan bismillah inshallah ini memang jalanku, akhirnya aku lolos dan berangkat ke amerika. 

Meskipun amerika menjadi negara impian saat itu, dan saat itupula aku mendapatkan jawaban atas doa2 ku untuk bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri, meskipun penuh drama saat pengurusan ijin, karena saat itu ada sesorang yang menyampaikan jika aku tidak boleh tugas belajar lagi karena pernah bermasalah, tetapi itukan buat saya yang salah tapi karena sakit dan harus pulang ke Indonesia. akhirnya aku mengumpulkan aturan2 yang ada untuk dapat melanjutkan kuliah lagi. 

Waktu terus berlalu aku harus adaptasi untuk kuliah di amerika, pada akhirnya aku mulai kerasan dengan kehidupan amerika yang serba teratur dan udaranya sangatlah bagus tidak banyak polusi.

Pada saat berjalannya waktu akupun bisa keliling eropa karen aku harus menghadiri conference saat itu. Aku menjadi presenter paper penelitianku di spanyol, itulah aku merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan yang sangat luar biasa.   

Pada akhirnya, aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan doktor di kampus dan college yang sama, surat letter of sponsorship sudah ada di tangan, karena system di amerika tidak begitu sulit untuk melanjutkan ke program doktor asal memenuhi syarat2 yang telah di tentukan

Drama pun dimulai, dimana saat itu aku mulai menulis surat usulan untuk mendapatkan sponsor, karena memang sebelumnya aku sudah baca peraturan bahwa untuk melanjutkan harus ada syarat2 yang wajib di penuhi, drama makin berlanjut karena surat yang aku ajukan dan mendapatkan jawaban itu selama kurang lebih 6 bulan (waw ini epic) begitu susahnya ya. Itupun sudah melalui banyak proses aku harus kontak sana sini untuk mengawal itu surat agar dapat di ijinkan lanjut dan mendapatkan surat usulan untuk mendapatkan sponsor. Dalam surat balasan akupun masih sangat heran dan terkejut, karena disitu tertuliskan usulanku tidak bisa di tindak lanjuti karena belum ada sponsor dll. What? Aku kan bikin surat dan kronologi memang lagi cari sponsor, kenapa suratnya di balas dengan aku belum mendapatkan sponsor, dalam hati ingin tertawa tetapi tertawa jahat, apa gak pernah di baca ya surat usulanku saat itu. 

Baiklah beribu carapun aku mulai coba, karena aku tidak akan pernah menyerah sampai titik darah penghabisan, akhirnya aku mendapatkan biaya sekolah dari kampus tetapi aku harus menjadi teaching assistant dan reseach assistant, itu artinya aku harus full ngajar dan membantu professor untuk penelitian selama 3 tahun, duh aku merasa sangat senang sekali dan langsung sujud syukur, karena tidak gampang mendapatkan itu, jadi aku harus berjuang dengan mahasiswa local dan international. Mulailah aku sounding ke beberapa pejabat di kantorku, sampai saat ini masih belum ada jawaban resmi, karena ada 3 point yang harus aku penuhi dan itu akan terpenuhi inshaallah dalam waktu dekat. Satu yang aku masih heran ada pernyataan dari sesorang bilang “kamu udh lulus belum sih?” , aku jawab “Iya belum pak tapi desember ini inshaAllah lulus kok, kan sudah ada surat pernhyataan dari dekan”, dia menjawab lagi “orang belum lulus s2 kok ngapain minta s3?”, beh aku merasa kayak ya Allah kenapa gini banget sih pak, aku mulai mengurus surat ini karen agar tidak terlalu mepet waktunya karena hanya ada waktu 1 bulan sebelum program doktor dimulai, apa sih pak susahnya sidikit menghargai usaha orang lain toh gak ada salahnya kok. Kalo bapak membantu saya, inshallah ada pahala yang gak akan terputus pak, karena aku menutut ilmu dan itu pahala nya luar biasa, inshaallah kelak kalo bapak terjadi kesusahan pasti ada orang lain yang membantu pak. 

Aku sudah mulai berfikir untuk bagiamana caranya untuk tetap tinggal di amerika dan menyelesaikan urusanku sekolah dan mencapai gelar doktor. Tidak ada yg salah saat kita menghargai usaha seseorang dan mengapresiasinya, karena aku piker aku tidak butuh apa2, tapi aku minta bantuan untuk pengurusan surat dimana itu sudah menjadi tugas pokok fungsi anda. 

Semoga aku mendapatkan hasil yang terbaik, di salah satu sisi aku tidak akan pernah mengecewakan pihak kampus dan negaraku khususnya, jika saya yang lulus juga buat kantor dan negara kok, please bantuin saya mewujudkan mimpi2 itu. 

Ini khusus untuk temen-temen yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri ini Aku lampirkan link tawaran beasiswa dari Bappenas, silahkan mencoba dan Good Luck! http://www.pusbindiklatren.bappenas.go.id